Artikel

Menumbuhkan Fikiran Kritis untuk Berinovasi dan Berkreativitas

Seorang mahasiswa baru merasa bahwa dirinya pasti dapat menyelesaikan kuliahnya dengan cepat. Dia naik percaya dirinya karena ternyata beban di kampus ternyata tidak seberat jika dibandingkan dengan beban waktu di SMA. Waktu di SMA dia harus pergi ke sekolah setiap hari (senin – jum’at) dari jam 07.00 hingga jam 15.00. Jika dia terlambat, maka satpam segera menutup pintu gerbang sekolahnya, sehingga siswa tidak lagi diijinkan masuk sekolah. Pelajaran full dari pagi hingga sore dengan jadwal yang padat. Di kelas dia harus ikut ulangan harian, ujian tengah semester dan ujian akhir semester dengan jumlah soal yang sangat banyak. Misalnya pelajaran Fisika yang soal ujian akhirnya mencapai 40 soal.

Ketika dia masuk ke kampus, ternyata keadaan berubah secara drastis. Pada semester satu, dia mendapatkan beban kuliah sebesar 20 sks. Jika beban ini dikonversi menjadi jam kuliah, maka diperoleh hasil 1000 menit atau 16,6 jam yang harus diikuti selama satu minggu. Kemudian dia berfikir, kalau begitu santai sajalah, kuliah dan ke kampus tidak perlu setiap hari. Ketika dia datang terlambat, ternyata pintu gerbang tidak ditutup, diapun lantas pergi ke kelas, dan ternyata dosen pengajar mengijinkan dia masuk. Wah enak banget ya kuliah, terlambat tidak dihukum. Diapun mulai cari info ke senior, bagaimana model ujian di kampus. Sebagian seniornya bercerita bahwa soal ujian di kampus umumnya hanya 5 soal setiap mata kuliah. Dalam hati mahasiswa baru ini, merasa “itu mah sangat mudah bagiku. Waktu SMA soal banyak saja saya mampu mengerjakan, di sini hanya lima soal, enteng lah”.

Tidak terasa waktu semester satu sudah hampir habis, UAS baru saja berlalu, dan tibalah saat melihat hasil kuliahnya di portal akademik. Dia sangat terkejut, ternyata nilainya kecil dan indek prestasinya tidak lebih dari 2.5. Tahun demi tahun berlalu, ternyata dia tidak segera lulus, bahkan teman-teman seangkatannya sudah banyak yang lulus dan dapat kerja. Sementara dia masih berkutat pada pencarian judul skripsi. Dia merasa tidak ada judul skripsi yang cocok buatnya. Jika mendapatkan info dan tawaran judul skripsi dari dosen, dia merasa tidak mampu mengerjakannya. Setelah tujuh tahun akhirnya lulus juga dan setelah jadi alumni diapun bercerita kenangan pahitnya waktu kuliah agar tidak terulang oleh adik-adiknya.

Orang kuliah dipersepsi sebagai orang dewasa, yaitu orang tahu kebutuhan hidup dasarnya, orang yang dapat mengatur waktunya, orang yang dapat mengatur keuangannya dan orang yang dapat berkomunikasi. Satu sks sebetulnya bukanlah 50 menit seperti yang difahami mahasiswa baru ini. Satu sks menurut Kemenristekdikti adalah 170 menit. Jika 50 menit berupa waktu tatap muka di kelas, maka 120 menit adalah waktu milik mahasiswa. So, jadi mahasiswa perlu memiliki sifat berfikir kritis atau peka dengan keadaan. Cara berfikir mahasiswa baru dalam cerita ini belum menunjukkan sifat tersebut. Berfikir kritis perlu dimiliki dan ditumbuhkan sejak awal jadi mahasiswa. Di sinilah peran senior dan dosen pembimbing di perguruan tinggi untuk menanamkan sifat berfikir kritis.

Berfikir kritis dimulai dengan pertanyaan awal, kenapa sistem di kampus terasa dibebaskan seperti ini ya? Kemudian pertanyaan kenapa tidak setiap hari harus masuk? Dan akhirnya pertanyaan kenapa jumlah soalnya tidak banyak ya? Jika pertanyaan ini muncul pada diri seorang mahasiswa baru, maka diapun kemudian berfikir, disinilah tantangan buatku untuk menajemen waktu dengan baik. Sebagai mahasiswa, maka anda perlu tahu bahwa kehidupan nyata itu cenderung bebas dan tidak ada seseorang yang akan mengendalikan anda. Andalah penentu pilihan kegiatan apa yang akan anda pilih. Sebagai orang dewasa anda dianggap sudah mampu membedakan kegiatan yang positif dan kegiatan yang negatif. Anda dipersilahkan mengambil keputusan untuk kehidupan anda sendiri.

Orang cerdas adalah orang yang memikirkan masa depannya, dan untuk itu diperlukan fikiran yang kritis. Mahasiswa yang berfikir kritis dia akan menentukan sebuah target kapan dia harus lulus dan dengan IPK tertentu. Target tersebut akan dapat menggerakannya untuk membuat rencana kelulusan. Rencana itu dapat menjadi arah dan guidance selama dia berada di kampus. Dia akan tahu kegiatan apa yang harus dipilihnya, yang tentunya dia akan pilih kegiatan yang menunjang target dan sesuai dengan rencananya. Dia tidak akan tergoda dengan kegiatan hura-hura yang tidak sesuai dengan rencananya. Diapun akan berfikir bagaimana agar waktu yang ada termanfaatkan dengan baik, sehingga targetnya dapat tercapai.

Mahasiswa yang telah mampu berfikir kritis untuk dirinya, barulah dapat diharapkan agar berfikir kritis untuk masyarakat dan negerinya. Kebiasaan berfikir kritis yang tumbuh kembang dalam diri seorang mahasiswa akan dapat mengarahkannya untuk mulai berfikir luas, yaitu berfikir tentang pengabdian kepada masyarakat. Dia sadar sebagai akademisi, dia juga dituntut untuk ikut memberikan sumbangsih kepada masyarakat. Fikiran kritis terhadap kehidupan masyarakat akan dapat menumbuhkan fikiran untuk membuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Dari sinilah akan muncul fikiran untuk membuat karya inovatif yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Kemenristekdikti pun telah memberikan dorongan kepada mahasiswa yang berfikiran seperti ini dengan memberikan pendanaan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Namun perguruan di tinggi di Wilayah Banten, masih terlalu sedikit keikutsertaannya dalam PKM. Untuk itu perlu mulai ditumbuhkan sifat kritis di kalangan mahasiswa di Banten. Menumbuhkan sifat kritis ini dapat dimulai dari para dosen sebagai pembimbingnya. Sifat kritis dapat menular sebagaimana semangat juga menular. Menularkan sifat baik merupakan pilihan bijak bagi para pendidik, yang dengannya sang pendidik dapat memperolah balasan kebaikan dari Sang Pencipta secara terus menerus.

Pak Supri

Penulis : Dr. Supriyanto, ST., M.Sc.

  • Ketua Jurusan Teknik Elektro UNTIRTA
  • Pembina Rumah Prestasi
  • Ketua YBB
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close